
Tadi malam saya dan
kawan saya makan di sebuah rumah makan padang. Dan sialnya, saat itu tv di rumah makan tersebut lagi nyetel siaran kompetisi menyanyi yang bertajuk pasangan orangtua-anak.
Mendengar siaran itu, bikin makan saya jadi buru-buru, karena kuping saya tiba-tiba jadi panas & otak jadi mumet...hahaha!
Menyedihkan banget ya, koq bisa-bisanya acara model gini bisa jadi acara tv rutin dari Senin sampai Jum'at! Sigh! Kalo ditelusuri, konsep penyajian acara tv di Indonesia adalah sebuah lingkaran setan. Awalnya pihak stasiun tv coba menyuguhkan tayangan baru kepada penonton, biasanya masih ditayangkan seminggu sekali. Dan saat pihak stasiun tv menyadari bahwa animo masyarakat tinggi, biasanya penayangan acara tersebut bakal ditambah, entah jadi 2 minggu sekali, ataupun rutin di tiap hari kerja. Ironisnya, kebanyakan pihak stasiun tv nggak pernah memperhatikan kualitas tayangan tv mereka, yang mereka lihat cuma rating acara mereka. Karena dengan rating tinggi, otomatis mereka akan banyak dapet tawaran iklan. Tapi sebenarnya, animo tinggi yang disangka oleh stasiun tv itu, udah berubah jadi sebuah keterpaksaan. Kebanyakan masyarakat Indonesia, sebagai penonton, terpaksa nonton acara tersebut karena (mungkin) mereka ga punya pilihan hiburan lain. Saya setuju banget dengan pernyataan
mba' dee di postingan
ini, bahwa lingkaran setan ini adalah kebodohan yang paling ultimat...
Selain masalah konsep penyajian acara tv, konsep voting pada berbagai acara kompetisi, kebanyakan kompetisi bernyanyi, juga sangat berbau komersialisasi. Sampai sekarang, saya masih heran kenapa sih mereka memasang tarif premium kepada penonton untuk voting? Kalau alasan biaya penggunaan nomor ABN (Abbreviated Dialling Number) yang mahal, saya rasa kalo tempo dulu itu bisa dipertimbangkan, tapi untuk saat ini rasanya tidak. Tarif telekomunikasi adalah satu-satunya tarif yang turun (CMIIW) di antara kenaikan tarif barang/jasa lain. Kalo begini terus, yang ada penonton yang voting cuman pihak kerabat peserta doank! Dampaknya adalah tujuan kompetisi, yang katanya sih mencari kontestan terbaik di mata masyarakat, ga bakal pernah tercapai.Saya sempat berpikir, kalo pun emang tarif voting ga mungkin untuk diturunkan, kenapa ngga sistem voting-nya dirubah. Kalo selama ini penonton diharuskan mem-voting peserta yang mereka dukung, kenapa nggak menjadi: penonton diharuskan mem-voting peserta yang mereka nggak suka. Dengan sistem ini, vote masyarakat bakal lebih mengerucut, fokus mencari siapa yang lebih pantas untuk keluar dari kompetisi. Setidaknya menurut saya, hal ini bisa mengurangi kesan komersialisasi yang ditandai dengan slogan vote sebanyak-banyak-nya.Di samping itu, sampai saat ini saya masih mengharapkan terjadinya revolusi industri televisi di Indonesia. Sampai kapan kah masyarakat Indonesia terus dijejali acara-acara sampah di tv?
© picture by bright_nature
Read More......